Bersama dengan Malaysian Science and Technology Research Institute of Defense (STRIDE) (tuan rumah) dan the Biorisk Association of the Philippines (BRAP2015), ABI mengadakan Loka karya mengenai Penguatan Keamanan dan Pengawasan Bioteknologi. Acara ini dilaksanakan di Putra Jaya pada tanggal 3 – 5 Desember 2025. Pelaksanaan acara merupakan kerja sama dengan Health Security Partners dan mendapatkan dukungan dari Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat melalui program Biosecurity Engagement.

Read more: ABI participation in The Workshop on Biotechnology Security and Oversight – Malaysia

Dalam acara ini, dibahas hal-hal terkait dengan celah atau ketidakkonsistenan dalam kerangka kerja tata laksana program biosecurity yang membuka kerentanan. Dipaparkan juga pendekatan praktis dalam mengevaluasi riset yang sensitif, penguatan kemampuan membuat keputusan pada tingkat institusi dan negara, pemastian keamanan dan tanggung jawab dalam pengembangan dan penggunaan bioteknologi. Topik bahasan ini dicetus oleh perkembangan ilmu, teknik, dan teknologi baru seperti biologi sintetik, rekayasa gen dan protein, dan kecerdasan buatan, yang kesemuanya rentan akan penyalahgunaan. Di Asia tenggara, tingkat kerentanannya tinggi karena masih lemahnya pengelolaan dalam penggunaan data bersama, kerja sama dengan pihak asing, dan evaluasi terhadap keamanan riset baru. Melalui loka karya ini, pemangku kepentingan yang hadir mendapatkan perangkat untuk melakukan evaluasi terhadap riset sensitif secara terstruktur dan berbasis risiko.

Delegasi Indonesia terdiri dari dewan pengawas ABI (Prof. Herawati Sudoyo, Prof. Joko Pamungkas, dan Dr. dr. Budiman Bela) dan beberapa perwakilan dari industri, lembaga penelitian dan kementerian.

Versi bahas Inggris di bawah (English version below)

Together with the Malaysian Science and Technology Research Institute of Defense (STRIDE) (the host) and the Biorisk Association of the Philippines (BRAP2015), ABI organized a Workshop on Strengthening Biotechnology Security and Oversight. This event was held in Putra Jaya on 3rd – 5th of Desember 2025. The event was in partrnership with Health Security Partners and supported by the U.S. Department of State through the Biosecurity Engagement Program.

In the program, issues related to gaps or inconsistencies in existing governance frameworks that can create vulnerabilities were discussed, as well as practical approaches to assess sensitive research, strengthening institutional and national decision-making, and supporting the safe and responsible development and use of biotechnology. These topics were triggered over the concern on the dual-use nature of many emerging tools, such as synthetic biology, genome and protein engineering, and artificial intelligence-enabled research, that introduces risks of misuse. In south east Asia, the risk is high because of unregulated data sharing, insufficient controls on foreign partnerships, and inadequate mechanisms to assess the security implications of novel research. Through this workshop, the stakeholders will be equipped with a structured, risk-based approach to evaluate sensitive research.

The Indonesian delegates were the members of ABI advisory board (Prof. Herawati Sudoyo, Prof. Joko Pamungkas, and Dr. dr. Budiman Bela) and a few representatives from industry, research institution and Ministry.

Leave a Reply