Baru-baru ini, sebuah post di X (dulu: twitter) menampilkan berita seorang yang mampu melakukan sekuensing genom sendiri di rumah, menggunakan alat yang dirancang sendiri dengan bantuan internet dan kecerdasan buatan (AI, artificial intelligence). Yang bersangkutan sama sekali tidak memiliki latar belakang sains dan pengalaman sebelumnya. Ini tampak seperti suatu kebanggaan dan pencapaian luar biasa, namun, di belakangnya sarat dengan risiko penyalahgunaan teknologi.

Post ini merupakan salah satu trend baru yang tersebar diantara para penggemar sains dan orang-orang yang antusias akan teknologi. Post lain (di bawah) juga menceritakan bagaimana yang bersangkutan merasakan keuntungan untuk kualitas hidupnya.
Perkembangan komunitas dengan afinitas sains ini dapat membangkitkan rasa penasaran dan keinginan untuk mencoba ke kalangan awam, didukung dengan kemudahan mengakses teknologi, kelimpahan informasi, dan kemudahan transaksi untuk material melalui e-commerce yang menembus lintas negara dan benua.

Post-post terkait penggunaan dan pemanfaatan AI di bidang bioteknologi menjadi perbincangan hangat mengingat tingginya minat, rasa ingin tahu dan perkembangan sains dan teknologi. Isi postingan menunjukkan besar peluang berkiprah dalam dunia sains namun juga kerentanan penyalahgunaan.
Penyalahgunaan dapat dilakukan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab untuk mengganggu ketenangan masyarakat, menciptakan teror dan huru hara, bahkan kondisi yang sulit dikendalikan.

Kondisi ini merambah pada kekhawatiran skala internasional yang menjadi pemikiran akan berkembangnya tindak bahaya siber di bidang biologi/bioteknologi/hayati.
Anda ingin tahu lebih banyak akan bahaya dan bagaimana seharusnya agar tidak berhubungan atau bermasalah dengan hukum? ayo ikut konferensi biorisiko yang akan di selenggarakan oleb ABI. Klik di sini untuk informasi lebih lanjut.
